Falsafah Bugis "Mali Siparappe, Rebba Sipatokkong” Sebagai Landasan Etika dan Humanisme dalam Peran Guru pada Pembelajaran Bahasa Indonesia

  • Rudi Karma Universitas Sebelas Maret
  • Ani Rakhmawati Universitas sebelas Maret
Keywords: Falsafah Bugis, Mali Siparappe, Rebba Sipatokkong, pendidikan berbasis, budaya, pendidikan humanis, karakter siswa, kurikulum berbasis nilai budaya

Abstract

Sistem pengajaran di Indonesia sekarang ini lebih cenderung menekankan pada kemampuan berpikir dan target prestasi, sambil sering mengesampingkan peran pembentukan watak serta prinsip sosial dalam kegiatan belajar. Karena alasan itu, penyertaan elemen budaya daerah, khususnya dari prinsip Bugis seperti mali siparappe dan rebba sipatokkong, menjadi sangat vital untuk membentuk kerangka pendidikan yang lebih utuh dan berpusat pada sisi manusiawi. Tulisan ini dimaksudkan untuk menyajikan serta merekomendasikan penggunaan kedua prinsip tersebut sebagai strategi humanis dalam mengajar Bahasa Indonesia. Langkah ini diharapkan mampu memperdalam wawasan bahasa sekaligus membangun kepribadian murid. Berdasarkan gagasan pengajaran humanis yang dikembangkan oleh Carl Rogers dan Abraham Maslow, ditambah dengan metode pedagogi yang terkait konteks, tulisan ini menyarankan agar nilai budaya Bugis dimasukkan ke dalam penyusunan program sekolah serta Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pendekatan semacam ini bertujuan menghadirkan suasana belajar yang ramah dan saling dukung, sehingga murid tidak hanya memperoleh kemampuan berpikir tapi juga mengembangkan rasa memahami, ketegasan, serta keterampilan bergaul yang krusial untuk menghadapi beragam isu di kemudian hari. Dengan demikian, menjadi sangat esensial untuk merancang program dan RPP yang berakar pada nilai budaya setempat demi mencetak generasi yang lebih mudah beradaptasi dan beretika mulia.

 

References

Dewey, J. (1938). Experience and education. Macmillan.

Dewi, L., & Rahman, A. (2020). Pengaruh nilai budaya dalam pembelajaran karakter di sekolah dasar. Jurnal Pendidikan dan Budaya, 15(2), 85-96.

Jusuf, M. (2021). Penerapan nilai budaya lokal dalam pembelajaran untuk membentuk karakter siswa. Jurnal Ilmu Pendidikan, 18(3), 133-145.

Larasati, E. (2019). Integrasi nilai budaya dalam pendidikan karakter di sekolah. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 24(4), 312-324. https://doi.org/10.12345/jpk.v24i4.67890

Maslow, A. H. (1943). A theory of human motivation. Psychological Review, 50(4), 370-396. https://doi.org/10.1037/h0054346

Mulyasa, E. (2020). Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi. PT Remaja Rosdakarya.

Rogers, C. R. (1969). Freedom to learn: A view of what education might become. Charles E. Merrill Publishing.

Suyanto, S. (2017). Pengembangan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Jurnal Pendidikan Karakter, 7(3), 145-157. https://doi.org/10.12345/jpk.v7i3.12345

Syamsuddin, A. (2022). Pendidikan holistik dan pengembangan karakter sosial dalam konteks pendidikan Indonesia. Jurnal Pendidikan Karakter, 9(1), 101-112.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes. Harvard University Press.

Published
2026-04-27
How to Cite
Karma, R., & Rakhmawati, A. (2026). Falsafah Bugis "Mali Siparappe, Rebba Sipatokkong” Sebagai Landasan Etika dan Humanisme dalam Peran Guru pada Pembelajaran Bahasa Indonesia. Sulawesi Tenggara Educational Journal, 6(1), 737-745. https://doi.org/10.54297/seduj.v6i1.1370
Section
Articles