Mining Science And Technology Journal http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech <p style="text-align: justify;"><img style="float: left;" src="/public/site/images/admin/Logo_Mining.png">merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Sulawesi Tenggara yang berfokus pada penelitian mengenai perkembangan sains dan teknologi di bidang rekayasa pertambangan.&nbsp;<strong>Mining Science and Technology Journal</strong> menjadi sarana publikasi hasil penelitian bagi para akademisi, peneliti dan praktisi di bidang ilmu rekayasa pertambangan. Jurnal teknologi pertambangan diterbitkan Tiga (3) kali dalam satu (1) tahun yaitu pada bulan April, Agustus dan Desember. Ruang Lingkup Kajian <strong>Mining Science and Technology Journal</strong> yaitu : Eksplorasi Pertambangan, Lingkungan Pertambangan, Ekonomi Mineral dan Batubara, Geomekanik/geoteknik Petambangan, Pengelolaan dan Pemurnian Mineral dan Batubara, Perencanaan Tambang, Peledakan Tambang, Konstruksi Pertambangan.</p> en-US karnohaamir020594@gmai.com (Ir. Muh. Karnoha Amir.,S.T.,M.T) Mon, 04 May 2026 15:14:42 +0000 OJS 3.1.1.4 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Analysis of Resistivity Value Distribution for Identification of Aquifer Layers in South Palangga District, South Konawe http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1459 <p><em>This study aims to analyze the distribution of subsurface resistivity values ​​to identify aquifer layers in South Palangga District, South Konawe Regency. The method used was geoelectric resistivity with a Wenner–Schlumberger configuration. Data acquisition was carried out on three lines, each 200 meters long and with electrode spacing of 10 meters. The measured data, in the form of apparent resistivity, were then processed using RES2DINV software to generate a two-dimensional (2D) subsurface cross-section model. The results showed that resistivity values ​​in the study area ranged from 1.61 to 43,164 Ωm, with a penetration depth of 40–55 meters. Interpretation of the resistivity cross-section indicated the presence of two main zones: a conductive zone and a resistive zone. The conductive zone, with resistivity values ​​of 1.61–76.4 Ωm, is interpreted as a water-saturated weathering layer and functions as a shallow aquifer with a thickness of approximately 20 meters. Meanwhile, resistive zones with resistivity values ​​greater than 76.4 Ωm are interpreted as relatively compact limestone bedrock. A comparative analysis between the two tracks indicates that track 2 has the most prospective aquifer potential, characterized by lower resistivity values ​​and a wider lateral distribution. Overall, the resistivity geoelectric method has proven effective in identifying the distribution of shallow aquifers and the characteristics of subsurface lithology. The results of this study are expected to provide a basis for planning the exploration and utilization of groundwater resources in the study area.</em></p> Aqsal Ramdhan Shaddad, La Ode Dzakir ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by/4.0 http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1459 Mon, 04 May 2026 15:12:50 +0000 Analisis Profitabilitas Produksi Nikel Laterit pada PT. X di Kecamatan Kabaena Selatan, Kabupaten Bombana http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1502 <p>Perusahaan bertujuan untuk memaksimalkan nilai perusahaan dan menjaga keberlangsungan usaha melalui pencapaian profit. Profitabilitas merupakan salah satu indikator kinerja keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba melalui rasio Net Profit Margin (NPM), Return on Assets (ROA), dan Return on Equity (ROE). Penelitian ini dilakukan pada PT. X, perusahaan pertambangan bijih nikel dengan metode selective mining, yang bertujuan menganalisis perbandingan pendapatan dengan biaya operasional serta pertumbuhan laba perusahaan selama periode 2021–2024. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder berupa laporan keuangan perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan PT. X mampu menutupi seluruh biaya operasional selama periode penelitian, yang mencerminkan kondisi operasional perusahaan yang baik. Rasio NPM mengalami fluktuasi dengan nilai tertinggi pada tahun 2024 sebesar 36,39% dan terendah pada tahun 2022 sebesar 11,31% akibat penurunan produksi. Rasio ROA menunjukkan tren peningkatan dari 9,29% pada tahun 2021 menjadi 61,6% pada tahun 2024, yang mengindikasikan kemampuan perusahaan dalam memaksimalkan aset untuk menghasilkan laba. Sementara itu, rasio ROE juga mengalami peningkatan signifikan dari 9,77% pada tahun 2021 menjadi 104,35% pada tahun 2024, yang menunjukkan efektivitas perusahaan dalam mengelola modal pemegang saham untuk memperoleh keuntungan. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa PT. X mengalami peningkatan kinerja profitabilitas selama periode 2021–2024.</p> Mirzak Faruk, Wd.Rizky Awaliah Nafiu, Wahab Wahab ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by/4.0 http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1502 Sat, 16 May 2026 00:00:00 +0000 Optimasi Dimensi Paritan Berdasarkan Debit Rencana Pada Area Tambang Terbuka Pit Jamrud http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1458 <p>Kegiatan penambangan terbuka sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrologi, terutama dalam pengelolaan air permukaan agar tidak mengganggu operasional. Salah satu komponen penting dalam sistem penyaliran adalah paritan yang berfungsi mengalirkan limpasan air hujan secara terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dimensi paritan yang optimal berdasarkan debit rencana sehingga mampu mengalirkan air secara efektif tanpa menimbulkan erosi maupun sedimentasi berlebih.</p> <p>Metode yang digunakan meliputi analisis hidrologi untuk memperoleh debit rencana dari data curah hujan, dilanjutkan dengan analisis hidraulika menggunakan pendekatan persamaan Manning guna menentukan kapasitas aliran saluran. Variabel yang dikaji mencakup luas daerah tangkapan hujan, koefisien limpasan, kemiringan saluran, serta kekasaran permukaan. Proses optimasi dilakukan dengan membandingkan beberapa alternatif dimensi paritan hingga diperoleh kombinasi yang memenuhi kriteria kapasitas aliran dan kestabilan saluran.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi paritan yang dirancang berdasarkan debit rencana mampu meningkatkan efisiensi sistem penyaliran serta meminimalkan potensi genangan pada area tambang. Selain itu, desain yang optimal juga berkontribusi dalam mengurangi risiko kerusakan saluran akibat kecepatan aliran yang tidak terkendali. Dengan demikian, pendekatan ini dapat dijadikan acuan dalam perencanaan sistem penyaliran tambang terbuka yang lebih efektif dan berkelanjutan</p> Ika Sartika Ambarsari, Arif Setiawan ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by/4.0 http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1458 Sat, 16 May 2026 05:37:06 +0000 Analisis Tahapan Pengeboran Eksplorasi Bijih Nikel Laterit Site PT. Rezki Mineral Sejahtera Daerah Tolala, Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1500 <p>Eksplorasi merupakan langkah penting dalam industri pertambangan, terutama dalam hal endapan nikel laterit yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan permintaan global yang terus meningkat. Oleh karena itu, diperlukan metode yang tepat untuk memahami karakteristik geologi, sebaran, serta kualitas dan kuantitas bijih di bawah permukaan. Data sebanyak 3 titik sumur bor (BHS 001, BHS 007, dan BHS 008) yang mana data mengenai waktu siklus, kecepatan pengeboran, produktivitas, efisiensi (ketersediaan peralatan), serta tahapan teknis seperti pemilihan lokasi, mobilisasi peralatan, pengeboran, pengambilan sampel inti, dan deskripsi sampel. Berdasarkan hasil penelitian, kecepatan pengeboran rata-rata adalah 3,63 m/jam, produktivitas pengeboran sebesar 2,48 m/jam, dan efisiensi pengeboran sebesar 69,40%. Variasi tersebut dipengaruhi oleh kondisi litologi, keberadaan bongkahan batu, keterbatasan teknis di lapangan, dan keterampilan operator. Keberhasilan eksplorasi secara umum ditemukan dipengaruhi oleh prosedur pengeboran yang sistematis dan pemilihan parameter teknis yang sesuai; sebagai hasilnya, produktivitas dapat ditingkatkan dengan mengoptimalkan waktu kerja, meminimalkan waktu tunggu, dan menyesuaikan teknik pengeboran dengan kondisi geologi setempat.</p> Syajruddin Syajruddin, Syahrul Syahrul, Rizki Kumalasari, Moh. Mahjum ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by/4.0 http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1500 Sat, 16 May 2026 05:56:41 +0000 Identifikasi Kedalaman Dan Ketebalan Lapisan Lunak Di Area Kantor Pengawasan Keuangan Dan Pembangunan Kabupaten Mamuju Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1457 <p><em>The Mamuju City area, West Sulawesi, was significantly impacted by the 2021 earthquake. Earthquake vibrations can be amplified if they pass through soft soil layers, potentially increasing building damage. The Mamuju City Financial and Development Supervision Office (PKP) area is a vital infrastructure that requires subsurface assessment. This study aims to identify the depth, thickness, and lateral distribution of soft layers below the surface of the Mamuju PKP Office Area. The method used is the Schlumberger configuration geoelectric resistivity with a single measurement path from the correlation of three geoelectric resistivity sounding points. Data processing was carried out with inversion software to produce a 2D subsurface resistivity model. The inversion results indicate the presence of three main layers: First Layer (Zone A): Has a resistivity of 4.09 - 64.5 Ωm with a thickness of between 5 and 36.7 meters. This layer is interpreted as weathered sandy reef limestone saturated with water through intergranular flow, with a soft/loose layer condition. This layer is the main soft layer that has the potential for amplification. Second Layer (Zone B): Has a resistivity of 0.02 – 4.09 Ωm with a thickness that varies between 11 to 22.4 meters. This layer is dominated by weathered material of sandy reef limestone or highly weathered rock. This layer is the main soft layer that has the potential for amplification. Third Layer (Zone C): Has a resistivity of 64.5 – 22048.1 Ωm. This layer is interpreted as a harder and more compact bedrock. The depth of this bedrock varies, starting from around 2 to 10.6 meters. This layer is a hard/compact layer. The conclusion is that the identified soft layer based on the resistivity geoelectric interpretation consists of 2 layer zones, namely the first layer (Zone A) and the second layer (Zone B) with a resistivity value of &lt;64.5 Ωm, a layer thickness of 5 to 36.7 meters, a layer depth of 0 to 34.3 meters. The presence of this thick soft layer has the potential to become an earthquake amplification zone, so it needs to be taken into consideration in earthquake mitigation and engineering planning for rebuilding or retrofitting structures in the area.</em></p> Hasrianto Hasrianto, Raivel Raivel, Saddam Husein ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by/4.0 http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1457 Wed, 20 May 2026 01:49:20 +0000 Peran Hidrologi dalam Perencanaan dan Operasi Tambang: Sebuah Tinjauan Literatur http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1384 <p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Hidrologi tambang merupakan komponen esensial dalam seluruh siklus hidup pertambangan, mulai dari eksplorasi, perencanaan, pengoperasian, hingga pascatambang. Dalam dua dekade terakhir, meningkatnya skala dan kompleksitas kegiatan pertambangan telah mendorong perhatian yang lebih besar terhadap dinamika sistem hidrologi, mengingat keterkaitannya dengan stabilitas geoteknik, kepunahan operasional, serta perlindungan lingkungan perairan. Pengelolaan sistem hidrologi yang tidak optimal berpotensi menimbulkan risiko banjir pit, gangguan produksi, dan degradasi ekosistem akuatik. Artikel terpopuler ini menyajikan sintesis kritis terhadap jurnal internasional dan nasional, dengan tujuan memulai perkembangan dan analisis peran hidrologi dalam perencanaan serta pengoperasian tambang modern. Fokus kajian meliputi penerapan model hidrologi berbasis </span></span></span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Sistem Informasi Geografis</span></span></span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> (GIS), kecerdasan buatan, pemodelan hidrogeokimia, dan penggunaan isotop geokimia untuk memahami interaksi udara permukaan dan udara tanah di lingkungan tambang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi pendekatan hidrologi kuantitatif dengan teknologi digital mampu meningkatkan akurasi perancangan sistem drainase, mengoptimalkan kinerja dewatering, serta menurunkan risiko banjir dan gangguan operasional. Selain manfaat teknis, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa hubungan analisis neraca udara dengan evaluasi ekonomi tambang berpotensi meningkatkan nilai ekonomi proyek tanpa menambah beban lingkungan. Namun demikian, perubahan tanah akibat aktivitas pertambangan terbukti berdampak signifikan terhadap kualitas ekosistem akuatik, sehingga memerlukan strategi mitigasi. Secara keseluruhan, cerminan ini menegaskan bahwa hidrologi tambang telah berkembang dari fungsi yang bersifat reaktif menjadi elemen strategis dalam pengambilan keputusan tambang, dengan integrasi data </span></span></span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">real-time</span></span></span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> dan manajemen udara terpadu sebagai kunci pertambangan berkelanjutan di era perubahan iklim.</span></span></span></span></p> Risal Gunawan, Muhamad Karnoha Amir, Fadli Fadli ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by/4.0 http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1384 Wed, 20 May 2026 08:10:01 +0000 Analisis Perbandingan Kadar Mgo Dan Sio₂ Pada Endapan Nikel Laterit Di Daerah Boedingi, Sulawesi Tenggara http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1463 <p>Sulawesi Tenggara merupakan salah satu wilayah prospektif pembentukan endapan nikel laterit yang berkembang pada batuan ultramafik dan mengalami proses lateritisasi intensif. Perbedaan kadar MgO dan SiO₂ menjadi parameter penting dalam menafsirkan karakter geokimia, tipe endapan, serta kualitas bijih nikel laterit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan kadar MgO dan SiO₂ pada endapan nikel laterit di Daerah Boedingi, Sulawesi Tenggara, khususnya pada Pit A dan Pit E. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-analitik melalui observasi geologi lapangan, identifikasi litologi, pengambilan sampel bijih laterit, preparasi sampel, serta analisis geokimia menggunakan instrumen X-Ray Fluorescence (XRF) Epsilon 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pit A memiliki kadar MgO sebesar 30,28% dan SiO₂ sebesar 40,29%, lebih tinggi dibandingkan Pit E yang memiliki kadar MgO sebesar 17,05% dan SiO₂ sebesar 36,33%. Perbedaan tersebut menunjukkan variasi karakter lateritisasi dan litologi batuan induk, dimana Pit A yang berasosiasi dengan litologi dunit cenderung memiliki karakter lebih magnesian dan siliceous, sedangkan Pit E yang berasosiasi dengan harzburgit menunjukkan kecenderungan lebih ferruginous dan aluminous. Berdasarkan karakter geokimianya, Pit A diinterpretasikan sebagai tipe endapan laterit oxide deposit, sedangkan Pit E lebih mencerminkan tipe hydrous silicate deposit. Dengan demikian, perbandingan kadar MgO dan SiO₂ dapat digunakan sebagai dasar dalam interpretasi karakter endapan, kualitas bijih, dan arahan kegiatan eksplorasi maupun penambangan nikel laterit secara lebih selektif.</p> Adriansyah Wuriadin Lantapi, Gina Audina P Alhabsyi, Raivel Raivel, Sara Septiana, Alwan Satapona, Winarno Winarno ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by/4.0 http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1463 Thu, 21 May 2026 00:00:00 +0000 Kajian Teknis Penanganan Moisture Content Nikel Laterit di Stockyard pada Jetty Babarina PT. Ceria Nugraha Indotama Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1507 <p>PT. Ceria Nugraha Indotama merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan yang berlokasi di Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara. Moisture content adalah nilai berat air terkandung dalam contoh bijih nikel dengan berat kering bijih nikel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji penanganan kadar air (moisture content) pada tumpukan bijih nikel laterit di area stockyard Jetty Babarina PT. Ceria Nugraha Indotama, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif melalui observasi lapangan, pengambilan sampel, pengujian laboratorium, serta analisis data moisture content. Sampel diambil sebanyak 20 yang terdiri atas 10 sampel pada tumpukan sebelum dilakukan penanganan dan 10 sampel pada tumpukan setelah dilakukan penanganan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar moisture content rata-rata pada tumpukan sebelum dilakukan penanganan sebesar 44,67%, sedangkan pada tumpukan setelah dilakukan penanganan sebesar 31,07%, sehingga terdapat penurunan sebesar 13,60%, adapun standar moisture content pada PT. Ceria Nugraha Indotama 35%. Faktor utama yang menyebabkan kenaikan kadar air pada bijih nikel di stockyard antara lain kondisi cuaca (curah hujan tinggi), kondisi lantai stockpile yang cekung dan berlumpur, serta sistem drainase yang kurang optimal. Upaya penanganan dilakukan melalui penerapan treatment berupa buka-tutup terpal, pemadatan tumpukan, Perlapisan dasar/lantai stockpile, dan proses pengeringan (drying). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan treatment tersebut efektif dalam menurunkan kadar air pada bijih nikel laterit di area stockyard, sehingga dapat meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas bijih yang dikirim ke smelter.</p> Lilis Lilis, Nurfasiha Nurfasiha, Hasriyanti Hasriyanti, Arif Arif, Rizki Kumalasari, Isram Yano Yatjong ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by/4.0 http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1507 Fri, 22 May 2026 04:17:15 +0000 Analisis Perencanaan Biaya Penambangan Nikel Laterit pada PT. Riota Jaya Lestari Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1462 <p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Penambangan nikel laterit merupakan salah satu kegiatan pertambangan yang memerlukan biaya perencanaan yang tepat untuk mencapai efisiensi dan efektivitas operasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perencanaan biaya penambangan nikel laterit pada PT. Riota jaya lestari di pit sakura dengan fokus pada penentuan jumlah alat gali muat dan angkut yang dibutuhkan dan biaya yang diperlukan untuk kegiatan pengupasan overburden (OB) dan ore. Ju</span></span><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">mlah alat gali muat dan angkut dapat dihitung berdasarkan produktivitas alat berat dan target produksi. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode perhitungan kebutuhan alat gali muat dan angkut berdasarkan parameter – parameter teknis dan ekonomis dari desain tambang yang telah disusun oleh tim peneliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kegiatan pengupasan overburden menggunakan alat gali muat excavator sumitomo SH350 LHD dan bijih menggunakan alat gali muat excavator sumitomo SH210 kemudian untuk pengangkutan menggunakan Dump truck Howo 371. B</span></span><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">erdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa, total cadangan bijih sebesar 362.320 dengan target produksi bijih yaitu 50.000 ton/bulan. Jumlah alat gali muat yang dibutuhkan dalam kegiatan pengupasan overburden sebanyak 1 unit dengan kemampuan produksi 88.403,92 Ton/bulan dan untuk memuat sebanyak 1 unit dengan kemampuan produksi 87.381,00 Ton/bulan, serta untuk mengangkut sebanyak 4 unit dengan kemampuan produksi 86.257,85 Ton/bulan. Kemudian untuk kegiatan mendapatkan bijih sebanyak 1 unit alat dengan kemampuan produksi 57.918,28 Ton/bulan, pada kegiatan memuat bijih sebanyak 1 unit dengan kemampuan produksi 57.745,92 Ton/bulan dan untuk mengangkut sebanyak 20 unit dengan kemampuan produksi 57.577,98 Ton/bulan. Kombinasi alat tersebut menunjukkan tingkat keserasian kerja yang baik sehingga mampu meminimalkan waktu tunggu dan meningkatkan produktivitas operasi penambangan. Total biaya dari bulan Januari - Agustus untuk kegiatan pengupasan overburden sebesar Rp.7.181.216.000 dan untuk bijih sebesar Rp.5.503.344.000. To</span></span><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">tal biaya keseluruhan yang harus dikeluarkan yaitu sebesar $792.785.00 atau setara dengan Rp.12.684.560.000 miliar. Untuk biaya penambangan per ton sebesar $2.19. Biaya tersebut menunjukkan kondisi biaya yang relatif efisien.</span></span></p> Elma Finata, Hasriyanti Hasriyanti, Isramyano Yatjong, Sahrul Poalahi Salu, Arif Arif, Rizki Kumalasari ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by/4.0 http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1462 Fri, 22 May 2026 04:21:03 +0000 Tren Penelitian Global Pemanfaatan Limbah Abu Terbang Batubara (Coal Fly Ash): Analisis Bibliometrik Menggunakan Database Pengindeks Scopus http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1501 <p><em>This study presents a systematic bibliometric review of global research trends in coal fly ash (CFA) utilization between 2015 until 2025, drawing data from the Scopus database. The analysis reveals a notable increase in publications, particularly a sharp surge in 2023 and 2024, indicating growing urgency regarding sustainable industrial waste management. Geographically, China leads research contributions, aligning with its role as a major coal producer, followed by Poland, the United States, and India, underscoring the topic's relevance across diverse global applications, from construction to environmental remediation. Research focus is broadly distributed across several key fields, including environmental science, materials science, and energy. Prominent topics identified remediation of environmental concerns, carbon emission mitigation efforts through combustion processes, and the development of innovative materials such as cement and zeolites using CFA as an alternative component. The central position of "fly ash" as a core keyword in the thematic network underscores its centrality in exploring the potential of this valuable by-product. This review aims to provide comprehensive insights for the scientific community, policymakers, and industrial sectors regarding current research dynamics and prospective directions in CFA utilization.</em></p> Intan Abdillah Arrasyid, M. Nurcholis, Shofa Rijalul Haq ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by/4.0 http://www.jurnal-unsultra.ac.id/index.php/minetech/article/view/1501 Sat, 23 May 2026 03:21:07 +0000